masa SMA adalah masa dimana kita dihadapkan oleh banyak sekali pilihan, dan seringkali pilihan kita di masa SMA menjadi penentu arah hidup kita dimasa mendatang. salah satunya adalah pemilihan jurusan pendidikan ilmu bahasa(maaf pada tulisan kali ini mugkin tidak banyak saya singgung), ilmu alam atau ilmu sosial pada SMA kelas XI. guna dari penjurusan ini adalah untuk spesialisasi siswa dalam jurusan yang diminatinya dan juga sebagai pengantar sebuah disiplin ilmu sebelum belajar di perguruan tinggi nanti.
tapi dewasa ini banyak khalayak baik para orang tua, murid dan bahkan guru menyarankan agar dalam memilih jurusan para siswa harus sebisa mungkin mendapatkan jurusan IPA di SMA. mereka berpendapat bahwa para siswa yang berhasil masuk pada penjurusan IPA adalah siswa-siswa terpilih yang sudah dijamin masa depannya, siswa-siswa yang memiliki kemampuan lebih dalam belajar dan terdepan dalam persaingan di lapangan kerja nyata kelak. sedangkan siswa-siswa yang “terjerumus” ke IPS adalah siswa-siswa yang tersisihkan dalam persaingan prestasi belajar, terbuang dari zona aman dimasa depan dan menjadi pengekor di dunia kerja. tidak, tidak seperti itu bung!
penjurusan IPA dan IPS (atau bahkan bahasa) seyogyanya adalah sederajat. karena diferensiasi jurusan di tingkat ini bukanlah diferensiasi secara vertikal melainkan secara horizontal, karena itu antara satu dengan yang lain memiliki kelebihan yang tidak dimiliki jurusan lain. yang perlu di ingat adalah jurusan IPS bukanlah sebuah subtitusi dari jurusan IPA. siswa yang memilih di IPS bukan berarti tidak mampu belajar di IPA dan “terpaksa” mengaplikasi sebuah peribahasa “tak ada rotan akar pun jadi”. bukan, bukan itu kawan !
pelajar di ips adalah salah satu generasi terbaik yang dimiliki bangsa ini, generasi yang akan membawa indonesia menuju negara yang berdaulat dan kuat. para ekonom indonesia yang akan menjadikan indonesia mengerti sistem ekonomi apa yang paling cocok dan menguntungkan bangsa ini. para ahli sejarah yang akan menggali dan mengungkap betapa jaya nya nusantara di masa lalu. para ahli geografi yang akan menjaga dan memperbaiki bumi nusantara yang kaya. para sosiolog yang akan membuat sistem sosial yang kokoh dan sesuai kepribadian bangsa yang luhur dan bergotong royong. dan masih banyak lagi lini-lini fital dimasa depan yang akan diisi oleh para pelajar ips yang dari SMA sudah diasah kemampuan verbalnya dalam berdiskusi, diuji kemampuan komunikasinya dalam presentasi dan masih banyak lagi pengasahan leadership yang sangat dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat dimasa depan.
jadi selamat atas kalian para pelajar IPS. ibu pertiwi sedang tersenyum sambil menepuk dada, tanda bangga ketika melihat kalian menuntut ilmu. mari bersama kita busungkan dada dan teriakan “AKU BANGGA JADI PELAJAR IPS!!”


setelah menelan kenyataan pahit dari kebijakan sembrononya, pemerintah tetap berkelit dan tidak mau mengkaji ulang kebijakannya. pemerintah yang di wakilkan oleh wakil gubernur prijanto mengubah alasannya bahwa pemajuan jam sekolah ini bertujuan membangun kepribadian para siswa agar terbiasa bangun lebih pagi sehingga kelak dikemudian hari dapat menjadi orang yang kompetitif di dunia kerja; sebuah sikap inkonsisten yang tidak patut. tapi sekali lagi alasan ini adalah alasan yang sembrono alias nggedabrus! alasan tersebut sebenarnya adalah sebuah pernyataan gamblang pemerintah yang melihat masyarakatnya bukan sebagai manusia yang punya keluarga, tujuan hidup dan tentu saja memiliki HATI dan PERASAAN. pemerintah seolah-olah menyatakan bahwa warga jakarta hanyalah sebagai robot dan komoditi bagi pendapatan kota jakarta sehingga yang perlu dipikirkan hanyalah harga jualnya.