tinggi pohon tinggi berderet setia lindungi
hijau rumput hijau tersebar indah sekali
terasa damai kehidupan di kampungku
kokok ayam bangunkan ku tidur tiap pagi
tinggi gedung tinggi mewah angkuh bikin iri
gubuk-gubuk liar yang resah di pinggir kali
terlihat jelas kepincangan kota ini
tangis bocah lapar bangunkan ku dari mimpi
malam
lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta
diatas derita mereka masih bisa tertawa
memang ku akui kejamnya kota jakarta
namun yang kusaksikan lebih parah dari yang kusangka
jakarta oh jakarta
si kaya bertambah gila dengan harta kekayaannya
luka si miskin semakin menganga
jakarta oh jakarta
terimalah suaraku dalam kebisinganmu!
kencang teriaku semakin menghilang
jakarta oh jakarta
kau tanpar siapa saja saudaraku yang lemah
manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan
jakarta oh jakarta
angkuhmu buahkan tanya
bisu dalam kekontrasanya
Pemerintah provinsi DKI jakarta yang terhormat dan kebanyakan menggunakan kendaraan pribadi ke kantor telah menelurkan sebuah kebijakan untuk mengatur jam masuk sekolah dan kerja. kebijakan ini pada awalnya dikatakan oleh pemerintah sebagai solusi untuk mengurangi kemacetan di jakarta. pemerintah beralasan bahwa jam masuk sekolah pukul 07.00 yang berbarengan dengan jam masuk kerja para pegawai kantoran adalah penyebab kemacetan di jakarta dengan prosentase 14%. walaupun sebelum kebijakan ini diterapkan sudah banyak pihak yang menanyakan efektivitas kebijakan ini, tapi pemerintah dengan congkaknya tetap memuluskan rencana pemajuan jam sekolah menjadi pukul 06.30 dan pengaturan jam kerja yang berbeda pada masing-masing wilayah dengan mengatakan sudah melalui prosedur dan survey yang teliti oleh para pakar.
tapi pada perjalanannya, pemajuan jam sekolah ini justru memperparah kemacetan di ruas-ruas jalan di ibukota. jam kemacetan menjadi semakin lama, jalan yang kemacetannya masih bisa ditoleransi menjadi macet total dan muncul titik macet baru di jalanan yang biasanya lancar. setelah menelan kenyataan pahit dari kebijakan sembrononya, pemerintah tetap berkelit dan tidak mau mengkaji ulang kebijakannya. pemerintah yang di wakilkan oleh wakil gubernur prijanto mengubah alasannya bahwa pemajuan jam sekolah ini bertujuan membangun kepribadian para siswa agar terbiasa bangun lebih pagi sehingga kelak dikemudian hari dapat menjadi orang yang kompetitif di dunia kerja; sebuah sikap inkonsisten yang tidak patut. tapi sekali lagi alasan ini adalah alasan yang sembrono alias nggedabrus! alasan tersebut sebenarnya adalah sebuah pernyataan gamblang pemerintah yang melihat masyarakatnya bukan sebagai manusia yang punya keluarga, tujuan hidup dan tentu saja memiliki HATI dan PERASAAN. pemerintah seolah-olah menyatakan bahwa warga jakarta hanyalah sebagai robot dan komoditi bagi pendapatan kota jakarta sehingga yang perlu dipikirkan hanyalah harga jualnya.
selain itu, jika memang pemerintah ingin menaikan kualitas hidup pelajar jakarta dimasa depan, seharusnya pemerintah tidak perlu mengorbankan para siswa untuk melupakan kehidupan yang indah diwaktu pagi hanya untuk bermacet-macet ria untuk datang lebih pagi kesekolah. waktu senggang untuk bercengkrama dengan keluarga harus mereka lupakan demi kebisuan yang membosankan di angkutan umum yang terasa lama dan menyiksa karena kemacetan yang semakin hari semakin parah. waktu pagi untuk berolahraga guna mempersiapkan fisik untuk menghadapi hari yang keras di ibukota harus mereka hilangkan demi rasa capek dan ngantuk sepanjang hari. waktu sarapan yang bersama keluarga yang damai dan penting harus para pelajar hilangkan demi rasa lemas di dalam kelas. dan banyak lagi dampak negatif yang harus pelajar rasakan hanya karena ego pemerintah saat ini. dan perlu diingat bahwa dampak negatif ini akan terus membekas menjadi suatu kepribadian yang cacat dan permanen pada para pelajar sepanjang hidup mreka. karena semua dampak tersebut akan memiliki efek domino bukan hanya untuk seorang pelajar secara pribadi, tapi juga menjadi sebuah kepribadian kota jakarta. maka jangan heran jika kelak warga jakarta hanyalah menjadi ROBOT-ROBOT BERNYAWA yang sudah lagi tidak memiliki hati nurani dan jiwa sosial.
shoutout :
KAMI TIDAK BODOH, TAPI KAMI DIBODOHKAN
KAMI TIDAK LEMAH, TAPI KAMI DILEMAHKAN
KAMI TIDAK MALAS, TAPI UNTUK APA KAMI RAJIN?
TOH, SISTEM INI SUDAH MEMBEKUKAN KAMI DALAM KEBEJATAN YANG NYATA!